Qawaid 13-18
Fi'il Ma'lum-Fi'il Majhul
فِعْل مَعْلُوْم - فِعْل مَجْهُوْل
Fi'il Ma'lum (Kata Kerja Aktif)
Fi'il Majhul (Kata Kerja Pasif)
Dalam tata bahasa Indonesia, dikenal istilah Kata Kerja Aktif dan Kata Kerja Pasif. Perhatikan contoh berikut ini:
Abubakar membuka pintu. --> kata "membuka" disebut Kata Kerja Aktif.
Pintu dibuka oleh Abubakar. --> kata "dibuka" disebut Kata Kerja Pasif.
Dalam tata bahasa Arab, dikenal pula istilah Fi'il Ma'lum dan Fi'il Majhul yang fungsinya mirip dengan Kata Kerja Aktif dan Kata Kerja Pasif.
Perhatikan dan bandingksan kedua contoh kalimat di bawah ini:
Fi'il ضَرَبَ (=memukul) adalah Fi'il Ma'lum (Kata Kerja Aktif). Dinamakan Fi'il Ma'lum (ma'lum artinya yang diketahui) karena Fa'il atau Pelakunya diketahui. Dalam contoh di atas Umar bertindak selaku Fa'il atau pelaku pekerjaan yakni memukul.
Fi'il ضُرِبَ (=dipukul) adalah Fi'il Majhul (Kata Kerja Pasif). Dinamakan Fi'il Majhul (majhul artinya yang tidak diketahui) karena Fa'il atau Pelakunya tidak diketahui atau tidak disebutkan. Dalam contoh di atas, Umar bukan merupakan Fa'il (Pelaku) melainkan disebut dengan istilah Naib al-Fa'il (نَائِبُ الْفَاعِل) atau Pengganti Pelaku.
Fi'il Majhul dibentuk dari Fi'il Ma'lum dengan perubahan sebagai berikut:
a) Huruf pertamanya menjadi berbaris Dhammah
b) Huruf sebelum huruf terakhirnya menjadi berbaris Kasrah untuk Fi'il Madhy dan menjadi berbaris Fathah untuk Fi'il Mudhari'.
Fi'il Madhy أَمَرَ (=memerintah) menjadi Fi'il Majhul أُمِرَ (=diperintah):
أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ اللهَ = aku diperintah agar menyembah Allah
أُمِرْنَا أَنْ نَعْبُدَ اللهَ = kami diperintah agar menyembah Allah
أُمِرْتَ أَنْ تَعْبُدَ اللهَ = engkau (lk) diperintah agar menyembah Allah
أُمِرْتِ أَنْ تَعْبُدِي اللهَ = engkau (pr) diperintah agar menyembah Allah
أُمِرْتُمَا أَنْ تَعْبُدَا اللهَ = kamu berdua diperintah agar menyembah Allah
أُمِرْتُمْ أَنْ تَعْبُدُوا اللهَ = kalian (lk) diperintah agar menyembah Allah
أُمِرْتُنَّ أَنْ تَعْبُدْنَ اللهَ = kalian (pr) diperintah agar menyembah Allah
أُمِرَ أَنْ يَعْبُدَ اللهَ = dia (lk) diperintah agar menyembah Allah
أُمِرَتْ أَنْ تَعْبُدَ اللهَ = dia (pr) diperintah agar menyembah Allah
أُمِرَا أَنْ يَعْبُدَا اللهَ = mereka (2 lk) diperintah agar menyembah Allah
أُمِرَتَا أَنْ تَعْبُدَا اللهَ = mereka (2 pr) diperintah agar menyembah Allah
أُمِرُوْا أَنْ يَعْبُدُوا اللهَ = mereka (lk) diperintah agar menyembah Allah
أُمِرْنَ أَنْ يَعْبُدْنَ اللهَ = mereka (pr) diperintah agar menyembah Allah
Fi'il Mudhari' يَعْرِفُ (=mengenal) menjadi Fi'il Majhul يُعْرَفُ (=dikenal):
أُعْرَفُ بِكَلاَمِيْ = aku dikenal dari bicaraku
نُعْرَفُ بِكَلاَمِنَا = kami dikenal dari bicara kami
تُعْرَفُ بِكَلاَمِكَ = engkau (lk) dikenal dari bicaramu
تُعْرَفِيْنَ بِكَلاَمِكِ = engkau (pr) dikenal dari bicaramu
تُعْرَفَانِ بِكَلاَمِكُمَا = kamu berdua dikenal dari bicara kamu berdua
تُعْرَفُوْنَ بِكَلاَمِكُمْ = kalian (lk) dikenal dari bicara kalian
تُعْرَفْنَ بِكَلاَمِكُنَّ = kalian (pr) dikenal dari bicara kalian
يُعْرَفُ بِكَلاَمِهِ = dia (lk) dikenal dari bicaranya
تُعْرَفُ بِكَلاَمِهَا = dia (pr) dikenal dari bicaranya
يُعْرَفَانِ بِكَلاَمِهِمَا = mereka (2 lk) dikenal dari bicara mereka
يُعْرَفُوْنَ بِكَلاَمِهِمْ = mereka (lk) dikenal dari bicara mereka
يُعْرَفْنَ بِكَلاَمِهِنَّ = mereka (pr) dikenal dari bicara mereka
حَرْف
Harf (Kata Tugas)
Harf adalah semua jenis kata selain Isim dan Fi'il, yang tidak bisa berdiri sendiri dan tidak memiliki arti yang jelas tanpa kata-kata lain dalam hubungan kalimat.
Contoh Harf: وَ (=dan), مِنْ (=dari), عَنْ (=dari), إِلَى (=ke, kepada), فِيْ (=di, dalam), حَتَّى (=hingga), لاَ (=tidak, tidak ada), إِنْ (=jika), dan lain-lain.
Sekilas catatan penting tentang penggunaan beberapa macam Harf:
1. Beberapa Harf, seperti بِـ (=dengan) di dalam kalimat kadang mempunyai arti, dan kadang hanya sebagai tambahan yang tidak mempunyai arti. Contoh:
أَعُوْذُ بِاللهِ = aku berlindung kepada Allah
كَفَى بِاللهِ شَهِيْدًا = cukuplah Allah (sebagai) saksi
2. Harf وَ mempunyai dua fungsi:
a) ATHAF (عَطْف) atau Kata Sambung (=dan). Contoh:
ذَهَبَ أَحْمَدُ وَعَلِيٌّ = Ahmad dan Ali telah pergi
b) QASM (قَسْم) atau Kata Sumpah (=demi). Contoh:
وَالْعَصْرِ = demi waktu (Ashar)
Perlu dicamkan, bahwa di dalam al-Quran, Allah subhanahu wata'ala sering bersumpah dengan nama makhluq-Nya agar manusia mengambil pelajaran dari apa yang dijadikan sumpah tersebut. Adapun manusia, hanya boleh bersumpah dengan nama dan sifat Allah, tidak boleh bersumpah dengan nama makhluq.
3. Harf Lam لـ juga mempunyai beberapa fungsi:
a) MILIK (مِلْك) atau kepunyaan.Contoh:
لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ = kepunyaan Allah (seluruh) kerajaan langit dan bumi
b) TA'LIL (تَعْلِيْل) atau peruntukan (=untuk). Contoh:
أَذْهَبُ إِلَى الْمَدْرَسَةِ لِلتَّعْلِيْمِ = saya pergi ke sekolah untuk belajar
c) AMAR (أَمْر) atau perintah (=agar, supaya, hendaklah). Contoh:
لِيُنْفِقْ ذُوْ سَعَةٍ = hendaklah berinfak orang yang punya kelapangan (rezki)
d) TAUKID (تَوْكِيْد) atau penegasan (=sungguh, pasti). Contoh:
لَأَقُوْلُ قَوْلَ الْحَقِّ = sungguh aku akan berkata perkataan yang benar
4. NUN TAUKID ( نُوْن تَوْكِيْد ) atau "Nun Penegasan" adalah huruf Nun Tasydid yang melekat di belakang Fi'il Mudhari' dan berfungsi untuk menegaskan atau memperkuat maknanya. Perhatikan contoh di bawah ini:
لَأَقُوْلَنَّ قَوْلَ الْحَقِّ = sungguh aku pasti akan mengatakan perkataan yang benar
لَتُبْلَوُنَّ فِيْ أَمْوَالِكُمْ = sungguh kalian pasti akan diuji dalam (urusan) harta kalian
5. Harf إِنْ mempunyai dua macam arti:
a) Berarti "jika". Contoh:
إِنْ تَنْصُرُوا اللهَ يَنْصُرْكُمْ = jika kalian menolong (agama) Allah, Dia akan menolong kalian.
b) Berarti "tidak", bila sesudahnya terdapat kata إِلاَّ (=kecuali). Contoh:
إِنْ أَنْتُمْ إِلاَّ تَكْذِبُوْنَ = tidak lain kalian hanyalah berdusta
6. Harf لاَ juga ada dua macam:
a. NAFY (نَفْي) atau penidakan (=tidak, bukan, tidak ada). Contoh:
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ = tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Allah
b. NAHY (نَهْي) atau pelarangan (=jangan). Contoh:
لاَ تَعْبُدُوْا إِلاَّ اللهَ = jangan kalian menyembah kecuali (kepada) Allah
Demikianlah sekelumit contoh penggunaan Harf dan macam-macam artinya. Carilah contoh-contoh penggunaan Harf dalam ayat-ayat al-Quran dan al-Hadits, pelajarilah aneka ragam fungsi dan artinya masing-masing!
أَدَوَاتُ الاِسْتِفْهَام
Adawat Al-Istifham (Kata Tanya)
Di bawah ini dicantum beberapa Kata Tanya yang biasa dijumpai dalam Bahasa Arab beserta contohnya masing-masing dalam kalimat:
Cobalah membuat sendiri kalimat-kalimat tanya dari setiap kata-kata tanya di atas!
جُمْلَة غَيْرُ مُفِيْدَة
Jumlah Ghairu Mufidah
(Kalimat Tidak Sempurna)
Dalam Tata Bahasa Arab, rangkaian kata-kata yang membentuk kalimat terbagi dalam dua golongan besar:
1) JUMLAH MUFIDAH (جُمْلَة مُفِيْدَة) atau Kalimat Sempurna yaitu sebuah kalimat yang mengandung pikiran yang jelas dan utuh.
2) JUMLAH GHAIRU MUFIDAH (جُمْلَة غَيْرُ مُفِيْدَة) atau Kalimat Tidak Sempurna yaitu kalimat yang maksudnya belum jelas dan utuh.
Marilah kita pelajari Jumlah Ghairu Mufidah terlebih dahulu. Ada beberapa macam susunan kata atau kalimat yang merupakan Jumlah Ghairu Mufidah, yaitu:
1) SHIFAT-MAUSHUF (صِفَة وَمَوْصُوْف) atau Sifat dan Yang Disifati, biasa pula dinamakan NA'AT-MAN'UT (نَعْت وَمَنْعُوْت) yang artinya sama.
Kata yang pertama dinamakan MAUSHUF atau MAN'UT (Yang Disifati) sedangkan kata selanjutnya adalah sifatnya (SHIFAT atau NA'AT).
Maushuf dan Shifatnya harus sama dalam hal Mudzakkar/ Muannats, Mufrad/ Mutsanna/ Jamak, atau Nakirah/ Ma'rifah. Jadi bila Maushuf dalam bentuk Mudzakkar, Mutsanna dan Ma'rifah misalnya, maka Shifatnya pun harus dalam bentuk Mudzakkar, Mutsanna, Ma'rifah.
Perhatikan contoh-contoh berikut ini:
كِتَابٌ جَدِيْدٌ (=rumah baru)
كِتَابَانِ جَدِيْدَانِ (=dua kitab baru)
كُتُبٌ جَدِيْدَةٌ (=dua kitab baru)
مَجَلَّةٌ جَدِيْدَةٌ (=majalah baru)
مَجَلَّتَانِ جَدِيْدَتَانِ (=dua majalah baru)
مَجَلاَّتٌ جَدِيْدَاتٌ (=majalah baru)
الْمَسْجِدُ الْحَرَامُ (=Masjidilharam)
الْقُرْآنُ الْكَرِيْمُ (=Al-Quranul Karim)
2) MUDHAF-MUDHAF ILAIH (مُضَاف وَمُضَاف إِلَيْهِ).
Kata yang pertama dinamakan Mudhaf (umumnya Nakirah), sedang kata selanjutnya dinamakan Mudhaf Ilaih (umumnya Ma'rifah). Rangkaian Mudhaf-Mudhaf Ilaih itu sendiri sebagai satu kesatuan, merupakan Isim Ma'rifah. Antara Mudhaf dan Mudhaf Ilaih tidak mesti sama dalam hal Mudzakkar/Muannats atau Mufrad/Mutsanna/Jamak.
Perhatikan contoh-contoh di bawah ini:
كِتَابُ الْمُدَرِّسِ (=buku guru itu)
كِتَابَا الْمُدَرِّسِ (=dua buku guru itu)
كُتُبُ الْمُدَرِّسِ (=buku-buku guru itu)
كِتَابُ/كِتَابَا/كُتُبُ (=buku) adalah Mudhaf, الْمُدَرِّس (=guru) adalah Mudhaf Ilaih
اِبْنَةُ عَلِيٍّ (=puterinya Ali)
بِنْتَا عَلِيٍّ (=dua puteri Ali),
بَنَاتُ عَلِيٍّ (=puteri-puteri Ali)
اِبْنَةُ/بِنْتَا/بَنَاتُ (=puteri) adalah Mudhaf, عَلِيّ (=Ali) adalah Mudhaf Ilaih
Dari kedua contoh-contoh di atas terlihat bahwa Mudhaf dalam keadaan Nakirah sedangkan Mudhaf Ilaih adalah Isim Ma'rifah. Dan Mudhaf Ilaih tidak mesti mengikuti bentuk Mudhaf dalam hal Mufrad, Mutsanna, Jamak ataupun Mudzakkar dan Muannats.
Pada contoh di atas terlihat pula bahwa bila Mudhaf merupakan Isim Mutsanna (Dual) maka huruf Nun Kasrah (نِ) di akhir katanya dihilangkan. Perhatikan lagi dua kalimat di atas:
كِتَابَا الْمُدَرِّسِ (=dua buku guru itu) ---> كِتَابَا dari kata كِتَابَانِ
بِنْتَا عَلِيٍّ (=dua puteri Ali) ---> بِنْتَا dari kata بِنْتَانِ
Meskipun panjang dan terdiri dari banyak kata, baik kalimat Shifat-Maushuf maupun Mudhaf-Mudhaf Ilaih, tetaplah dianggap sebagai Jumlah Ghairu Mufidah (Kalimat Tidak Sempurna).
Perhatikan contoh kalimat-kalimat di bawah ini:
مِفْتَاحُ الْبَيْتِ (=kunci rumah)
بَيْتُ الْمُدَرِّسِ (=rumah guru/pengajar)
مُدَرِّسُ الْجَامِعَةِ (=dosen universitas)
مِفْتَاحُ بَيْتِ الْمُدَرِّسِ (=kunci rumah dosen)
بَيْتُ مُدَرِّسِ الْجَامِعَةِ (=rumah dosen universitas)
مِفْتَاحُ بَيْتِ مُدَرِّسِ الْجَامِعَةِ (=kunci rumah dosen universitas)
Semua kalimat di atas merupakan Mudhaf-Mudhaf Ilaih jadi termasuk Jumlah Ghairu Mufidah (Kalimat Tidak Sempurna). Kata pertama dari setiap kalimat tersebut bertindak sebagai Mudhaf sedangkan semua kata-kata di belakangnya adalah Mudhaf Ilaih (ditandai dengan baris huruf akhirnya yang semuanya Kasrah).